11 Juni 2013

Chatting Jaman Dahulu dengan Pemancar AM 80M - 100M


  Tulisan ini saya buat dalam rangka mengenang kembali masa lalu dalam menggeluti hobi utak atik elektronika dan hobi brik brikan sekitar seperempat abad yang lalu. Tulisan inipun saya tujukan bagi rekan rekan alumni AM 100 M (AM seratus meter) sebagai bagian dari pelaku sejarah pada komunitas breaker 100 M, supaya dapat mengenang kembali masa lalu sambil senyum senyum. Selain itu tulisan ini juga ditujukan untuk anda yang tidak mengalaminya sehingga dari tulisan ini dapat mengetahui kehidupan di dunia “chating” jaman dahulu. Ya jaman dahulu tidak ada HP, tidak ada modem yang ada radio transceiver (transmitter receiver) sebagai alat komunikasi.
Entah kapan dimulainya, Dahulu sekitar era 70an hingga 80an terbentuk suatu komunitas “jejaring sosial”, media pertemanan yang berbasiskan teknologi radio pemancar AM 100 meter. Namanya komunitas Breaker 100 Meter. Rekan rekan breaker biasa menyebut Breaker Cepe Meter. Karena mereka melakukan aktifitas jaringan sosial pertemanan melalui frekuensi radio 3 MHz atau pada gelombang radio 100 meter band, mode AM. Komunitas tersebut merupakan salah satu dari beberapa komunitas berbasis radio lainnya seperti perkumpulan 2 M, perkumpulan 11 M, 80 M atau yang lainnya.
Perkumpulan 11 M bekerja pada frekuensi radio 27 MHz dibawah naungan RAPI Radio Antar Penduduk Indonesia, dengan pesawat tranceiver yang biasa di sebut CB (Citizen Band). Sedangkan 2 M dan 80 M berada dalam pengawasan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia ORARI. 2 M bekerja pada frekuensi 144 MHz sedangkan 80 M bekerja pada frekuensi 3,5 MHz. Call signnya dari para anggota ORARI seperti YD 1 ABC, YC 3 XYZ dan lain lain. Dimana kode YD, YC, YB merupakan tingkat kecakapan seorang radio amatir di ORARI. Kode YD merupakan kode tingkat kecakapan terendah seorang radio amatir sedangkan YB adalah yang tertinggi. Kode angka yang berada dibelakang kode YA, YC atau YB seperti 0, 1, 2 dan seterusnya, merupakan kode wilayah radio amatir di Indonesia. Jadi dengan melihat kode angka yang ada pada call sign seseorang, dapat diketahui dari mana seorang amatir radio tersebut berasal.

Nah bagaimana dengan komunitas breaker 100 Meter.
Memang secara umum masyarakat kurang begitu mengenal komunikasi band 100 Meter ini, yang mereka tahu hanyalah CB. Padahal CB dengan pesawat 100 M berbeda, meskipun sama sama sebagai alat untuk “ngebrik”.  Breaker 100 M bekerja pada frekuensi 3 MHz bersebelahan dengan kanal 80 Meter sebagai kanal resmi radio amatir yang telah di tetapkan secara internasional. Sedangkan CB bekerja pada jalur 11 M.
Breaker AM 100 M atau biasa para anggota komunitas menyebutnya dengan breaker Cepe Meter boleh dikatakan sebagai amatir bodong, sebab frekuensi 3 MHz yang mereka gunakan sebenarnya tidak  dialokasikan untuk kegiatan radio amatir, tetapi oleh mereka kerap digunakan sebagai band amatir. Breaker cepe meter tidak mengantongi ijin apapun dan dari pihak manapun, mungkin satu satunya ijin yang mereka miliki adalah ijin dari tetangga untuk menitipkan tiang bambu sebagai penyangga antene mereka. Breaker cepe meter mempunyai antene yang panjangnya mencapai sekitar 40 sampai 47 meter. Jadi kawat sepanjang itu harus dibentangkan dari rumah sendiri sampai rumah tetangga. Sehingga breaker cepe meter, sulit untuk menyembunyikan antenenya, jika  pada suatu saat terdapat razia / sweeping. Biasanya sweeping dilakukan pada saat saat tertentu seperti pemilu, sidang umum MPR dan lain lian.  Pada masa masa seperti itu biasanya kegiatan peradioan harus turun.
Di Bandung kegiatan ini terbagi dalam lokal lokal: Lokal Utara Bandung, Timur Bandung, Selatan Bandung dan Barat Bandung. Di Lokal Barat Bandung ada tokoh Kang Uce dengan panggilan (QRA) Romeo 79 sebagai komandan di lokal tersebut.
Komunitas breaker AM 100 meter ini terdiri dari berbagai kalangan dan profesi, mulai anak SMP hingga orang tua, mulai pengangguran hingga PNS.  Bahkan gadis dan ibu rumah tanggapun hadir diantara mereka.
Pada umumnya para breaker tidak mengetahui nama asli mereka, yang mereka kenal adalah QRA atau nama panggilan di udara ,sebagai nama "artis" mereka  pada komunitas tersebut, seperti: Undur Undur, Ondel Ondel Zig Zag, Entog Mulang atau yang di ambil dari sandi alfabet seperti Alfa Golf, Bravo Indian Jibreg dan sebagainya. Terkesan nama nama tersebut mereka buat sekehendak hati, namun lucu juga jadinya. Sehingga bila memanggil seseorang didarat menjadi si Entog, si Macan, si Enday  dan sebagainya. Kehidupan dalam komunitas ini tidak memandang status, ras, agama atau golongan serta suku. Keanggotaan di komunitas ini tidak dilakukan secara formal seperti mendaftarkan diri pada sang ketua lokal, melainkan asal seseorang mempunyai pemancar (TX) atau seseorang yang sering operating di jalur 100 M meski tak memiliki TX sendiri, secara otomatis mereka tergabung pada komunitas ini.
Untuk dapat ber QSO (ngobrol di udara) breaker harus menyamakan frekuensi pemancarnya terlebih dahulu dengan rekan rekan yang telah on air duluan. Proses menyamakan frekwensi pemancar hingga sama frekuensinya (Zero Beat) dengan lawan bicara mempunyai teknik sendiri dan hanya mengandalkan filling saja dengan cara memutar varco tuning pada pemancar. Berbeda dengan pesawat 2M dan 11M asal sudah terdengar orang ber QSO maka tinggal “Brik”.

Pemancar rakitan sendiri.
Berbeda dengan breaker 2 M dan 11 M yang memakai transceiver (transmitter receiver) standar buatan pabrik, para breaker cepe meter seluruhnya menggunakan  pemancar AM 100 M hasil rakitan sendiri atau dirakitkan oleh seorang breaker yang biasa merakit pesawat. Sementara untuk mendengarkan lawan bicara harus memakai penerima atau receiver (RX) pesawat radio gelombang SW1 yang umumnya telah dimiliki sebelumnya sebagai radio hiburan di band MW. Pemancar yang dirakit ada yang menggunakan transistor (biasa disebut tanjidor), atau memakai tabung. Pemancar tabung teknologi kuno ini umumnya memiliki daya pancar yang lebih besar dibanding pemancar transistor. 
Bermain di cepe meter mempunyai seni tersendiri, banyak para perakit seolah berlomba untuk membuat pesawatnya paling keren baik signal maupun modulasi. Jika sinyal masih tertimpa sama breaker lain, maka saat itu juga pesawat dijungkir balikan untuk diutak atik lagi supaya hasilnya paling besar. Trik ini jarang ditemui pada jalur 2M dan 11M yang pesawatnya telah dicetak oleh pabrik dengan rangkaian lebih rumit, sehingga agak sulit untuk di utak atik (meskipun ada 1 atau 2 orang yang bereksperimen pada band tersebut) . Memang di cepe meter penuh dengan dunia eksperimen. Bagi mereka yang sering berburu YL (wanita) kwalitas modulasi menjadi perhatian sendiri, supaya terkesan gagah berwibawa.
Ada hal yang lucu, beberapa perakit pesawat sering kali dimita merakitkan pesawat milik breaker lain. Berhari hari merakit pesawat hingga larut malam bahkan sampai pagi, namun meskipun tak diberi upah yang penting dijamin makan sama rokoknya mereka rela mengerjakannya. Bukan perbudakan lho. He.. He.. He.,
Saat itu ada nama nama beken yang biasa membuat pemancar tabung AM 100 M seperti: Kang Pandi, Kang Uin, Kang Wawan Ajum, Kang Dadan serta masih banyak lagi. Sementara yang sering merakit pemancar transistor ada Papa Romi dari gunung Lagadar, ada Mang Yono, dan lain lain. Aduh udah pada lupa tu.

Tidak pernah itung itungan.
Yang berkesan dalam kehidupan breaker adalah mereka tidak pernah menghitung untung rugi dengan sesama breaker. Dalam mencari komponen untuk keperluan pemancar, para breaker biasa berburu komponen ke pasar Cikapundung atau ke pasar loak Jatayu. Pasar loak Jatayu sangat dikenal oleh para breaker baik dari dalam kota maupun luar kota Bandung. Namun ada kalanya breaker menemui kesulitan dalam mencarinya komponen yang dibutuhkannya, maklum komponen untuk pemancar tabung agak sulit dicari karena teknologinya mulai ditinggalkan orang, untuk itu biasanya mencari pada rekan rekan breaker dan melakukan barter dengan sesama breaker, namun sering juga para breaker tak segan segan meminta komponen yang dibutuhkannya pada breaker lain, dan yang dimintapun dengan rela memberikan barang yang diminta rekannya. Siapa yang suka ngundeur. Ngaku…

Melatih kreatifitas.
Anak anak breaker memang kreatif, dalam merakit pemancar awalnya merakit sesuai dengan skema yang ada, namun selanjutnya mereka melakukan berbagai eksperimen dengan merubah data data pada skema supaya hasilnya lebih bagus. Selain itu Modulastor yang umum digunakan pada saat itu adalah model IC STK, ada STK 015, STK 025, STK 050 dan sebagainya. Ada kalanya IC tersebut rusak atau jebol. Ditangan breaker kreatif, IC yang sudah jebol  ini di bobok dan dicangkokan transistor power pada IC tersebut, hasilnya IC menjadi bernyawa kembali. Ayo siapa yang pake  modulator STK jebol. Ngacung.
Banyak para breaker yang awalnya hanya bisa ngebrik saja, namun setelah terjun ke dunia cepe meter, mereka menjadi dapat merakit pemancar serta modulator sendiri. Mereka banyak belajar pada senior seniornya. Seperti Kang Jipi (juliet punkrock), dia banyak belajar saat menjadi breaker dan hingga saat ini dia telah menjadi teknisi TV dan barang elektro lainnya lebih dari 20 tahun, padahal sebelumnya dia tidak mengerti ilmu elektronika.

Rasa kekeluargaan dan kebersamaan.
Rasa persaudaraan dan kebersamaan diantara para breaker terbentuk dengan sendirinya. Antar breaker sering roundtable saling berkunjung kerumah breaker lainnya. Disitu mereka ngobrol ngobrol, biasanya yang dibicarakan seputar pemancar TX sambil ngopi ngopi atau lainnya. Selain on air, pada komunitas ini juga sering diadakan acara acara off air, seperti acara buka puasa bersama, halal bihalal atau ulang tahun seorang breaker. Acara tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk copy darat yaitu saling tatap muka secara langsung diantara breaker, terutama mereka yang belum pernah berjumpa di darat namun sering berjumpa di udara. Acara tersebut dapat menambah rasa kekeluargaan diantara mereka. Pertemuan seJawa Baratpun pernah beberapakali diadakan.  Tepatnya saya sudah lupa.

DX
DX adalah istilah berkomunikasi (QSO) dengan rekan rekan yang berada diluar kota. Untuk bisa berQSO dengan rekan luar kota bahkan luar pulau diperlukan pesawat pemancar yang mempunyai power besar, antene yang bagus serta propagasi yang terbuka. Namun demikian banyak juga rekan rekan yang menggunakan pesawat berdaya rendah namun dapat berQSO dengan rekan luar kota. Pesawat pesawat yang mempunyai daya rendah dapat juga mencapai luar kota jika antene yang digunakan mempunyai tingkat efisiensi tinggi dan sesuai dengan frekuensi kerja pemancar. Jenis antenna yang umum digunakan untuk menjelajah luar kota adalah antene dipole, antene inverted V dan sebagainya. DX  atau komunikasi dengan luar kota biasanya dilakukan pada malam hari mulai jam 9 malam hingga pagi hari, pada siang hari tidak dapat dilakukan sebab pada siang hari gelombang radio melemah oleh kekuatan sinar matahari dan. Sebagai kenang kenangan dan bukti bahwa seseorang telah melakukan kontak dengan rekan luar kota biasanya mereka saling bertukar QSL Card yang dikirimkan melalui Pos .

Sebagai sarana menyampaikan berita.
Karena jaman dahulu HP belum ada, pesawat telepon masih jarang terutama di daerah pedesaan, Rekan rekan di 100 M terutama yang sering aktif ber DX ria melakukan kontak dengan rekan rekan luar kota, sering di minta menyampaikan berita (QTC) baik berita keluarga, berita  duka  atau berita lainnya dari masyarakat ke masyarakat di suatu daerah. Pengiriman berita  melalui rekan breaker ini dianggap lebih efktif dari pada melalui pos yang memakan waktu lama. Seseorang yang ingin menyampaikan berita dapat menghubungi breaker. Breaker akan mencari rekan yang  mempunyai lokasi berdekatan dengan alamat  berita tujuan, selanjutnya rekan yang nenerima berita akan menyampaikan pada alamat tujuan atau mencari lagi rekan yang lebih dekat dengan alamat tujuan.
Rekan rekan, di cepe meter saya on air sekitar tahun 1985 hingga 1987 menggunakan transmiter tabung 2 tingkat dengan spesifikasinya oscilator 6AQ5 dan final 6L6 tanpa trafo step up / pudding, skemanya bisa dilihat disini. Jika propagasi sedang terbuka pemancar dapat menjajal hingga Propinsi Banten dan Jawa Tengah.
Mulai awal era 90an satu persatu rekan rekan breaker mulai menggantungkan microphone-nya. Pada tahun itulah TV swasta nasional mulai mengudara hampir 24 jam sehari, namun pada saat itu signal TV masih lemah sehingga pemancar menginterfensi TV swasta. Namun demikian mungkin saja ada rekan breaker yang hingga kini masih on air.  Ya selamat berjuang ya….

Teknologi semakin maju, varco telah berganti dengan keypad ponsel atau keyboard komputer, kehidupan komunitas AM 100 M tidak mungkin terulang kembali,  biarlah sejarah mencatat bahwa kita adalah salah satu bagian dari pelaku sejarah di komunitas breaker 100 M. Semoga jalinan pertemanan rekan rekan tidak ikut tenggelam.
Demikian sekilas tentang kehidupan di dunia AM 100 M mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan atau kekeliruan dalam menyampaikannya sebab sudah sudah lebih dari 25 tahun yang lalu, jadi sudah pada lupa. Jika rekan rekan ingin mengkoreksi dan menambahkan silahkan tulis dalam komentar, semoga dapat diambil manfaatnya.
Salam 73 88 cheriooo...






5 komentar:

Unknown mengatakan...

emang bener orang breaker dulu sifat sosialnya tinggi (ga itung-itungan tentang finansial ) buktinya saya dulu pernah membuat pemancar tabung tanpa biaya (modal tebel muka) karena aku belum kerja pingin punya pesawat pemancar dengan komponen pemberian dan karena aku bisa bikin atau perbaikan punya orang dan tanpa honor asal sediakan kopi dan makanan kecil okeeeee......

Diway mengatakan...

Ya kenangan masa lalu.
Lebih semangat lagi buatin pesawat yang ada operator YLnya.
he.. he... he...

YB3LOJ mengatakan...

Sampai hari ini penggemar pemancar 80m AM masih ada walau tidak sebanyak dahulu ..jika malam hari saat cuaca dan propagasi sedang bagus coba monitor pakai radio AM band SW pada kisaran 3,5 - 4,5 Mhz.

Diway mengatakan...

Memang benar adanya. Bagi saya sudah nggak mungkin untuk pasang antenenya.

Unknown mengatakan...

Hahahahah jadi ingat memori, saya dulu main 100an di Plaju - Palembang call sign PAPA MIKE, operator Gawel, waktu SMA hingga tamat kira2 th 81 th 84
Betul sekali kami dulu sesama Breker sangat sosial cukup kopi n rokok udah bisa minta buatin Radio 100an, yang lucu, kami hunting lampu tabung ke seantero Palembang bahkan ke Jambi, Lampung n Bengkulu, cari radio2 lama, casing pesawat dikit nakal ngambil almunium punya rambu2 lalulinas hahahahah/maling ya
Rasanya pengen main lagi..... klw ada sobat2 di Jabotabek yang msh main info saya ya Heru 081876610...... 73 88 Ceriooooo